Sepintas Tentang SDIT Insan Taqwa

Profil

MUKADIMAH

Metode pendidikan yang hanya mengandalkan aspek kognitif dengan mengabaikan penanaman karakter dan moral, sudah selayaknya ditinggalkan. Karena hal tersebut akan sangat berbahaya bagi perkembangan perilaku anak di masa depan.

Dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin global, diperlukan sinergitas antara keilmuan dan aqidah, kecerdasan dan akhlak, serta keahlian dan keshalihan. Disinilah pentingnya pendidikan berbasis sains dan Qur’an.

Keterpaduan pendidikan tersebut akan menjamin keyakinan diri anak yang kokoh, karakteristik jiwa yang mulia, wawasan keilmuan yang luas, serta memiliki kepribadian yang mandiri dan punya keterampilan (life skill).

VISI

“Mewujudkan sekolah Islam unggul dalam sains dan Qur’an.”

MISI

  • Mengembangkan potensi siswa meraih keunggulan sains dengan metode pendekatan Al-Qur’an.
  • Menyelenggarakan pendidikan dengan pendekatan cinta dan keteladanan.
  • Memadukan pemahaman Al-Qur’an dan kemampuan intelektual.

TUJUAN

  • Mengasilkan generasi muslim yang kuat aqidah, gemar ibadah, mandiri, dan berakhlak Islami.
  • Menghasilkan siswa terampil dan kompetitif dalam persaingan global.
  • Mengembangkan model pendidikan yang kondusif bagi terwujudnya generasi qur’ani yang cerdas, mandiri dan berdedikasi.

IDENTITAS SEKOLAH

Nama Sekolah : SDIT Insan Taqwa

Status Sekolah : Swasta

Akreditasi : B

Alamat : Perumahan Villa Gading Harapan (VGH) Blok BE,

Kel. Bahagia, Kec. Babelan, Kab. Bekasi, Jawa Barat.

Telepon : (021) 89233443

Email : intaq.bekasi@gmail.com

NPSN : 69980411

Status Kepemilikan : Yayasan Insan Taqwa Bekasi

SK Izin Operasional : 503.15/029/V/SK-SD/DPMPTSP/2017

Tgl. Izin Operasional : 2017-06-07

Komite Sekolah

Komite Sekolah adalah suatu lembaga mandiri di lingkungan sekolah dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan, arah, dan dukungan tenaga, sarana, dan prasarana serta pengawasan pada tingkat satuan pendidikan (sekolah).

Komite sekolah dapat melaksanakan fungsinya sebagai partner sekolah dalam mengadakan sumber-sumber daya pendidikan dalam rangka melaksanakan pengelolaan pendidikan yang dapat mewujudkan fasilitas bagi guru dan siswa untuk belajar sehingga pembelajaran menjadi semakin efektif.

Adanya sinergi antara komite sekolah dengan pihak sekolah melahirkan tanggung jawab bersama antara sekolah dan masyarakat sebagai mitra kerja dalam membangun pendidikan. Dari sini masyarakat akan dapat menyalurkan berbagai ide dan partisipasinya dalam memajukan pendidikan di daerahnya.

Kurikulum

Kurikulum adalah segala pengalaman pendidikan yang diberikan oleh sekolah kepada seluruh anak didiknya, baik dilakukan di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Semua sarana prasarana dalam pendidikan yang berguna untuk anak didik merupakan kurikulum. (Suryobroto, 2004 : 32).

Kurikulum yang diterapkan di SDIT Insan Taqwa adalah sebagai berikut:

Konsep Pendidikan islam Terpadu

Program ini memadukan antara konsep pendidikan nasional dengan konsep pendidikan islam, secara metodologi maupun sistem pengajaran.

- Kurikulum Nasional
Sistem pengelolaan kurikulum yang menuntut proses KBM yang memberdayakan semua potensi peserta didik, untuk menguasai kompetensi yang diharapkan.

- Tahsin & Tahfidz Al-Qur’an
Program ini bertujuan agar siswa mampu menguasai Al-Qur’an dengan baik dan benar dalam membaca maupun menghafal.

Selain itu untuk mendukung kurikulum tersebut, SDIT Insan Taqwa memperkaya dengan kegiatan Ekstrakulikuler dan Life Skill dengan maksud agar potensi bakat dan minat siswa dapat tersalurkan dan dioptimalkan.

EXTRA KULIKULER

- Futsal
- Renang
- Silat
- Marching Band
- Angklung
- Pramuka
- Da’i Cilik
- Marawis / Hadroh
- Sains Club
- Robotik

MATA PELAJARAN

Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika IPA, IPS, Seni Budaya dan Prakarya, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, Al-Qur’an (Tilawah & Tahfidz), Bahasa Inggris, Bahasa Arab, TIK, Pramuka dan Bahasa Sunda.

WAKTU BELAJAR

Pukul 07.30 - 14.45 WIB

GuruKu

Ada tiga macam tugas Profesi Guru yang tidak bisa dielakkan, yaitu tugas profesional, tugas sosial, dan tugas personal.

Tugas profesional

Tugas profesional guru meliputi mendidik, mengajar dan melatih/membimbing, serta meneliti (riset). Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melatih/Membimbing berarti mengembangkan ketrampilan-ketrampilan peserta didik. Dan meneliti untuk pengembangan kependidikan.

Tugas Sosial

Misi yang diemban guru adalah misi kemanusiaan, yaitu “pemanusiaan manusia”- dalam artian transformasi diri dan auto-identifikasi peserta didik sebagai manusia dewasa yang utuh. Karenanya di sekolah, guru harus dapat menjadikan dirinya sebagai “orang tua kedua” bagi peserta didik, dan di masyarakat sebagai figur panutan “digugu dan ditiru”.

Realitanya, menurut Uzer Usman (1997) masyarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat di lingkungannya karena dari seorang guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh pengetahuan. Ini berarti bahwa guru memiliki kewajiban untuk mencerdaskan masyarakat dan bangsa menuju pembentukan manusia seutuhnya. Karenanya pantaslah Bung Karno (dalam Sahertian, 1994) menyebut pentingnya guru dalam masa pembangunan adalah sebagai “pengabdi masyarakat”.

Tugas Personal

Tugas personal menyangkut pribadi dan kepribadian guru. Itulah sebabnya setiap guru perlu manatap dirinya dan memahami konsep dirinya. Wiggens dalam Sahertian (1994) mengemukakan tentang potret diri guru sebagai pendidik. Menurutnya, seorang guru harus mampu berkaca pada dirinya sendiri. Bila ia berkaca pada dirinya, ia akan melihat bukan satu pribadi, tetapi ada tiga pribadi, yaitu: (1) Saya dengan konsep diri saya (self concept); (2) Saya dengan ide diri saya (self idea); dan (3) Saya dengan realita diri saya (self reality).

Dengan refleksi diri, maka guru mengenal dirinya (autoidentifikasi) dan selanjutnya haruslah mengubah (tranformasi) dirinya, karena guru itu adalah “digugu dan ditiru” dan haruslah “ing ngarso asung tuladha”. Karena itu sebelum ia mengemban misinya haruslah “membangun jati dirinya”. Misalnya dalam penampilan, guru harus mampu menarik simpati para siswanya, karena bila seorang guru dalam penampilannya sudah tidak menarik, maka kegagalan pertama adalah ia tidak akan dapat menanamkan benih pengajarannya kepada para siswanya. Maka guru harus memahami hal ini dan berusaha mengubah dirinya menjadi simpatik. Demikian juga dalam hal kepribadian lainya. (Asmuni Syukir).

SEGERA DAFTARKAN PUTRA - PUTRI ANDA